Connect with us

Kesehatan

Susunan Makanan yang Perlu Dihindari Dimakan oleh Pasien Penyakit lambung

Published

on

Penyakit lambung atau masalah lambung adalah salah satu permasalahan kesehatan yang rentan dialami oleh banyak orang. Masalah ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman dan sakit untuk beraktivitas sehari-hari.

Salah satu hal yang paling penting dalam mencegah permasalahan kesehatan ini adalah dengan menjaga apa yang kita konsumsi. Pada sejumlah kasus, masalah ini bisa mengakibatkan sesak di dada dan keinginan untuk muntah.

Berbagai obat bisa kamu konsumsi untuk memperbaiki masalah dan rasa tak nyaman yang terjadi ini. Kamu juga dapat mengonsumsi permen atau jahe untuk mengatasinya.

Berbagai makanan tertentu dapat menimbulkan dampak yang berbeda pada tubuh individu. Dilansir dari The List, berikut sejumlah makanan yang Haram dikonsumsi oleh mereka yang mengalami masalah asam lambung.

Minuman Alkohol

Daniel Mausner, M.D., pakar kesehatan perut di Mercy Medical Center, Rockville Center, New York mengutarakan bahwa minuman berkarbonasi sebaiknya dihindari oleh mereka yang memiliki masalah asam lambung. Minuman bersoda bisa Perlu Dihindari tekanan pada lambung dan membuat asam lambung meningkat.

Advertisement

Berdasar sebuah penelitian, 69 persen pasien yang mengalami masalah lambung mengonsumsi minuman berkarbonasi. Masalah ini dapat didapat ketika mengonsumsi minuman bersoda, bir, atau sparkling water.

Secara garis besar, minumanAlkohol merupakan minuman yang sebaiknya dikurangi konsumsinya. Hal ini karena sejumlah dampak kesehatan yang bisa ditimbulkannya.

Makanan Berlemak

Makanan tinggi lemak bisa mengakibatkan terjadinya masalah serangan jantung. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh lemak buruk saja tapi juga dari lemak baik seperti kacang, alpukat, serta keju.

Makanan tinggi lemak dapat melepaskan hormon bernama cholecystokinin yang mengakibatkan makanan lama dicerna sehingga asam lambung yang diproduksi semakin naik. Disarankan untuk mengonsumsi makanan ini dalam perut kosong agar tidak mengalami masalah.

Konsumsi makanan berlemak terutama dalam kondisi perut setengah penuh atau penuh bisa menyebabkan penumpukan lemak di dalam perut.

Bawang Bombay

Bawang bombay merupakan makanan yang bisa meningkatkan risiko masalah asam lambung. Makanan ini juga bisa meningkatkan risiko sendawa yang mungkin kamu alami.

Advertisement

Makanan ini sebaiknya kamu hindari karena dampak yang mungkin muncul pada perutmu. Hal ini juga tidak menimbulkan masalah pada mulutmu karena bau napas yang mungkin timbul.

Gas yang dikeluarkan dari bawang bisa menyebabkan perut menjadi kembung. Oleh karena itu, bagi penderita penyakit magh, masalah ini harus kamu hindari.

Tomat

Munculnya masalah lambung usai mengonsumsi sambal biasanya tidak hanya disebabkan karena kandungan cabai di dalamnya. Keberadaan tomat pada sambal juga bisa jadi penyebab mucnulnya masalah ini. Tomat memiliki kandungan asam yang tinggi sehingga rentan membuatmu mengalami masalah asam lambung.

Semua makanan dan minuman tersebut ketika dipadukan bakal memberi dampak yang lebih buruk ke perut. Memadukan pizza dan minuman bersoda merupakan sebuah hal yang sebaiknya dihindari ketika kamu memiliki masalah asam lambung.

Advertisement
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Penemuan 60 Kasus Positif Hasil Tracing Omicron, Jangan Kendor Terapkan Prokes

Published

on

By

Setelah menjadi perbincangan beberapa waktu terakhir sejak kali pertama kasusnya ditemukan di Afrika Selatan, Omicron akhirnya dikonfirmasi masuk Indonesia. Temuan Virus Corona varian B.1.1529 atau Omicron di Indonesia ini diumumkan pertama kali oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 16 Desember 2021.

Dalam konferensi persnya secara virtual Budi menjelaskan jika ada tiga orang pekerja kebersihan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Jakarta yang dinyatakan positif setelah dites pada 8 Desember 2021 lalu. Hasil tes tersebut kemudian dikirimkan ke Balitbangkes untuk dilakukan genome sequencing.

Pada 15 Desember 2021, hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan jika tiga orang petugas kebersihan di Wisma Atlet yang positif sebelumnya, dipastikan terpapar varian Omicron. Mengejutkannya, ketiga orang tersebut positif tanpa gejala, dan telah menjalani karantina di Wisma Atlet. Kini hasil tes PCR kedua dari ketiga orang tersebut sudah negatif.

Dari kasus pertama ini, pemerintah pun melakukan tracing kepada 250 kontak erat. Hasilnya ditemukan 60 kasus positif Covid-19 yang kemudian akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terinfeksi Omicron atau bukan.

Transisi Pandemi Menuju Endemik

Ahli kesehatan dunia menyatakan Omicron bisa menjadi langkah signifikan dalam transisi pandemi menjadi endemik. Hal ini didasarkan pada studi awal tentang penyebarannya yang masif di beberapa negara.

Advertisement

Direktur pelaksana Bain Capital Life Sciences, Dr. Adam Koppel mengungkapkan varian Omicron yang sekarang ini mewabah di beberapa negara sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menjadi strain global yang dominan.

“Itu akan memungkinkan kita untuk lebih cepat mencapai keadaan endemik sebagai menentang keadaan pandemi di mana kita dapat hidup lebih teratur dengan virus yang lebih mirip dengan flu daripada yang terlihat seperti Covid-19,” katanya seperti dikutip dari Fox News, Jumat (17/12/2021).

Gejala Omicron yang Perlu Dipahami

Para peneliti CDC sudah mengajukan profil gejala awal untuk Omicron. Varian yang pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021 di Afrika Selatan ini memiliki beberapa gejala khas. Mulai dari batuk sebanyak 89% sementara gejala lainnya yaitu mudah lelah (65%), pilek atau hidung tersumbat (59%), demam (38%), mual (22%), sesak napas (16%), diare (11%), anosmia atau hilangnya kemampuan penciuman (8%).

Sementara Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru dalam salah satu wawancaranya di salah satu stasiun TV nasional, menambahkan jika varian Omicron replikasinya lebih banyak pada saluran pernapasan.

“Laporan dari berbagai negara, seperti Israel, Jepang dan juga Korea, menyebutkan jika kasus Omicron banyak ditemukan pada orang yang sudah divaksin lengkap. Bahkan, ada beberapa kasus yang sudah booster juga. Hal ini menunjukkan jika Omicron gejalanya ringan dibandingkan Delta, akan tetapi bisa menghindar dari sistem imun,” ungkap dr Erlina.

Biarpun mengalami gejala tersebut, tapi bukan berarti otomatis terinfeksi kasus Omicron. Perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya dengan jelas.

Advertisement

Continue Reading

Kesehatan

Ditemukan 60 Kasus Positif Hasil Pelacakan Omicron, Jangan Kendor Terapkan Prokes

Published

on

By

Setelah menjadi perbincangan beberapa waktu terakhir sejak kali pertama kasusnya ditemukan di Afrika Selatan, Omicron akhirnya dikonfirmasi masuk Indonesia. Temuan Virus Corona varian B.1.1529 atau Omicron di Indonesia ini diumumkan pertama kali oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 16 Desember 2021.

Dalam konferensi persnya secara virtual Budi menjelaskan jika ada tiga orang pekerja kebersihan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Jakarta yang dinyatakan positif setelah dites pada 8 Desember 2021 lalu. Hasil tes tersebut kemudian dikirimkan ke Balitbangkes untuk dilakukan genome sequencing.

Pada 15 Desember 2021, hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan jika tiga orang petugas kebersihan di Wisma Atlet yang positif sebelumnya, dipastikan terpapar varian Omicron. Mengejutkannya, ketiga orang tersebut positif tanpa gejala, dan telah menjalani karantina di Wisma Atlet. Kini hasil tes PCR kedua dari ketiga orang tersebut sudah negatif.

Dari kasus pertama ini, pemerintah pun melakukan tracing kepada 250 kontak erat. Hasilnya ditemukan 60 kasus positif Covid-19 yang kemudian akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terinfeksi Omicron atau bukan.

Transisi Pandemi Menuju Endemik

Ahli kesehatan dunia menyatakan Omicron bisa menjadi langkah signifikan dalam transisi pandemi menjadi endemik. Hal ini didasarkan pada studi awal tentang penyebarannya yang masif di beberapa negara.

Advertisement

Direktur pelaksana Bain Capital Life Sciences, Dr. Adam Koppel mengungkapkan varian Omicron yang sekarang ini mewabah di beberapa negara sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menjadi strain global yang dominan.

“Itu akan memungkinkan kita untuk lebih cepat mencapai keadaan endemik sebagai menentang keadaan pandemi di mana kita dapat hidup lebih teratur dengan virus yang lebih mirip dengan flu daripada yang terlihat seperti Covid-19,” katanya seperti dikutip dari Fox News, Jumat (17/12/2021).

Gejala Omicron yang Perlu Dipahami

Para peneliti CDC sudah mengajukan profil gejala awal untuk Omicron. Varian yang pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021 di Afrika Selatan ini memiliki beberapa gejala khas. Mulai dari batuk sebanyak 89% sementara gejala lainnya yaitu mudah lelah (65%), pilek atau hidung tersumbat (59%), demam (38%), mual (22%), sesak napas (16%), diare (11%), anosmia atau hilangnya kemampuan penciuman (8%).

Sementara Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru dalam salah satu wawancaranya di salah satu stasiun TV nasional, menambahkan jika varian Omicron replikasinya lebih banyak pada saluran pernapasan.

“Laporan dari berbagai negara, seperti Israel, Jepang dan juga Korea, menyebutkan jika kasus Omicron banyak ditemukan pada orang yang sudah divaksin lengkap. Bahkan, ada beberapa kasus yang sudah booster juga. Hal ini menunjukkan jika Omicron gejalanya ringan dibandingkan Delta, akan tetapi bisa menghindar dari sistem imun,” ungkap dr Erlina.

Biarpun mengalami gejala tersebut, tapi bukan berarti otomatis terinfeksi kasus Omicron. Perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya dengan jelas.

Advertisement

Continue Reading

Kesehatan

Ditemukan 60 Kasus Positif Hasil Tracing Omicron, Jangan Kendor Terapkan Prokes

Published

on

By

Setelah menjadi perbincangan beberapa waktu terakhir sejak kali pertama kasusnya ditemukan di Afrika Selatan, Omicron akhirnya dikonfirmasi masuk Indonesia. Temuan Virus Corona varian B.1.1529 atau Omicron di Indonesia ini diumumkan pertama kali oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 16 Desember 2021.

Dalam konferensi persnya secara virtual Budi menjelaskan jika ada tiga orang pekerja kebersihan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Jakarta yang dinyatakan positif setelah dites pada 8 Desember 2021 lalu. Hasil tes tersebut kemudian dikirimkan ke Balitbangkes untuk dilakukan genome sequencing.

Pada 15 Desember 2021, hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan jika tiga orang petugas kebersihan di Wisma Atlet yang positif sebelumnya, dipastikan terpapar varian Omicron. Mengejutkannya, ketiga orang tersebut positif tanpa gejala, dan telah menjalani karantina di Wisma Atlet. Kini hasil tes PCR kedua dari ketiga orang tersebut sudah negatif.

Dari kasus pertama ini, pemerintah pun melakukan tracing kepada 250 kontak erat. Hasilnya ditemukan 60 kasus positif Covid-19 yang kemudian akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terinfeksi Omicron atau bukan.

Transisi Pandemi Menuju Endemik

Ahli kesehatan dunia menyatakan Omicron bisa menjadi langkah signifikan dalam transisi pandemi menjadi endemik. Hal ini didasarkan pada studi awal tentang penyebarannya yang masif di beberapa negara.

Advertisement

Direktur pelaksana Bain Capital Life Sciences, Dr. Adam Koppel mengungkapkan varian Omicron yang sekarang ini mewabah di beberapa negara sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menjadi strain global yang dominan.

“Itu akan memungkinkan kita untuk lebih cepat mencapai keadaan endemik sebagai menentang keadaan pandemi di mana kita dapat hidup lebih teratur dengan virus yang lebih mirip dengan flu daripada yang terlihat seperti Covid-19,” katanya seperti dikutip dari Fox News, Jumat (17/12/2021).

Gejala Omicron yang Perlu Dipahami

Para peneliti CDC sudah mengajukan profil gejala awal untuk Omicron. Varian yang pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021 di Afrika Selatan ini memiliki beberapa gejala khas. Mulai dari batuk sebanyak 89% sementara gejala lainnya yaitu mudah lelah (65%), pilek atau hidung tersumbat (59%), demam (38%), mual (22%), sesak napas (16%), diare (11%), anosmia atau hilangnya kemampuan penciuman (8%).

Sementara Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru dalam salah satu wawancaranya di salah satu stasiun TV nasional, menambahkan jika varian Omicron replikasinya lebih banyak pada saluran pernapasan.

“Laporan dari berbagai negara, seperti Israel, Jepang dan juga Korea, menyebutkan jika kasus Omicron banyak ditemukan pada orang yang sudah divaksin lengkap. Bahkan, ada beberapa kasus yang sudah booster juga. Hal ini menunjukkan jika Omicron gejalanya ringan dibandingkan Delta, akan tetapi bisa menghindar dari sistem imun,” ungkap dr Erlina.

Biarpun mengalami gejala tersebut, tapi bukan berarti otomatis terinfeksi kasus Omicron. Perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya dengan jelas.

Advertisement

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021