Connect with us

Kesehatan

Tips Makan Malam untuk Membantu Mengurangi Berat Badan

Published

on

Malam hari merupakan saat yang sangat penting bagi bertambahnya berat badan. Pilihan yang anda buat dalam makan malam ini bisa menentukan pertumbuhan berat badan.

Bukan hanya makanan, pilihan untuk aktivitas yang kamu lakukan di malam hari juga dapat mempengaruhi hal ini. Waktu makan dan olahraga ini anda berakibat secara negatif maupun negatif terhadap naik atau turunnya berat badan.

Sebenarnya, pemilihan jam makan yang lain juga bisa mempengaruhi keadaan pertumbuhan berat badan. Walau begitu, dibanding pada pagi dan siang hari, keadaan di malam hari dianggap paling berdampak terhadap berat badan.

Sejumlah trik bisa anda terapkan untuk menolong dalam menurunkan berat badan ini. Dilansir dari Livestrong, berikut sejumlah trik makan malam yang bisa membantu dalam mengurangi berat badan.

Pastikan Tetap Mengikuti Jadwal

Makan malam dalam jam yang sama setiap hari bisa sangat menolong dalam mengurangi berat badan. Hal ini dapat terjadi karena kamu bakal lebih terencana dalam makan malam dibanding memilih makanan secara sembarangan.

Advertisement

Carissa Gallowat, RDN, pakar diet serta pelatih pribadi mengutarakan bahwa dengan makan secara terencana, anda bisa terhindar dari pemilihan makanan yang sembarangan. Selain itu, kamu juga bisa menerapkan jadwal makan yang lebih sore.

Kondisi ini bisa cukup ideal karena membuat makanan tidak menumpuk di malam hari. Dampaknya, kamu terhindar dari berat badan yang kembali naik di malam hari.

Hindari Gangguan ketika Makan

Banyak orang yang makan malam sambil bersantai menonton TV atau bermain ponsel. Hal ini ternyata bisa membuatmu kesulitan memproses rasa dan sukar merasa kenyang lebih cepat.

Penelitian pada Agustus 2020 mengungkap bahwa ketika seseorang sedang melakukan suatu hal, mereka bakal kesulitan menyadari saat perut terasa kenyang. Lebih lanjut, hal ini bisa membuatmu makan berlebihan dan juga dengan rasa yang tak seberapa lezat.

Oleh karena itu, pastikan untuk menjauhkan ponsel pada saat kamu tengah makan malam. Hal ini justru bisa membuat upaya dietmu gagal.

Minum Air Putih Lebih Dahulu

Konsumsi air diketahui bisa berhubungan dengan menurunkan berat badan. Minum banyak air sebelum makan malam bisa membuatmu tidak mengonsumsi banyak kalori.

Advertisement

Minum air terutama dalam jumlah banyak ini bisa membuat perut lebih kenyang sehingga kamu jadi makan lebih sedikit.

“Nilai tambahan jika kamu meminum air 30 menit sebelum makan dan kemudian mengonsumsi sayuran atau makanan tinggi serat terlebih dahulu,” jelas Galloway.

“Tujuannya adalah untuk membuatmu lebih kenyang dengan lebih baik pada makanan, sehingga kamu terhindar dari makanan tinggi lemak atau karbohidrat olahan,” sambungnya.

Kunyah Perlahan

Strategi paling sederhana untuk menurunkan berat badan di malam hari adalah dengan mengunyah makanan secara perlahan. Makan secara perlahan bisa menurunkan jumlah makanan yang dikonsumsi, menurunkan rasa lapar, serta meningkatkan rasa kenyang.

Hasil penelitian mengungkap bahwa seseorang yang makan lebih cepat cederung memiliki lingkar pergelangan lebih besar dan cenderung mengalami sindrom metabolisme. Oleh karena itu, hal ini perlu sangat dihindari.

Cara lain juga bisa anda lakukan untuk memperlambat makan seperti menggigit alat makan di antara tiap suapan, minum air, atau dengan berbicara dengan orang lain.

Advertisement

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Penemuan 60 Kasus Positif Hasil Tracing Omicron, Jangan Kendor Terapkan Prokes

Published

on

By

Setelah menjadi perbincangan beberapa waktu terakhir sejak kali pertama kasusnya ditemukan di Afrika Selatan, Omicron akhirnya dikonfirmasi masuk Indonesia. Temuan Virus Corona varian B.1.1529 atau Omicron di Indonesia ini diumumkan pertama kali oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 16 Desember 2021.

Dalam konferensi persnya secara virtual Budi menjelaskan jika ada tiga orang pekerja kebersihan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Jakarta yang dinyatakan positif setelah dites pada 8 Desember 2021 lalu. Hasil tes tersebut kemudian dikirimkan ke Balitbangkes untuk dilakukan genome sequencing.

Pada 15 Desember 2021, hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan jika tiga orang petugas kebersihan di Wisma Atlet yang positif sebelumnya, dipastikan terpapar varian Omicron. Mengejutkannya, ketiga orang tersebut positif tanpa gejala, dan telah menjalani karantina di Wisma Atlet. Kini hasil tes PCR kedua dari ketiga orang tersebut sudah negatif.

Dari kasus pertama ini, pemerintah pun melakukan tracing kepada 250 kontak erat. Hasilnya ditemukan 60 kasus positif Covid-19 yang kemudian akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terinfeksi Omicron atau bukan.

Transisi Pandemi Menuju Endemik

Ahli kesehatan dunia menyatakan Omicron bisa menjadi langkah signifikan dalam transisi pandemi menjadi endemik. Hal ini didasarkan pada studi awal tentang penyebarannya yang masif di beberapa negara.

Advertisement

Direktur pelaksana Bain Capital Life Sciences, Dr. Adam Koppel mengungkapkan varian Omicron yang sekarang ini mewabah di beberapa negara sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menjadi strain global yang dominan.

“Itu akan memungkinkan kita untuk lebih cepat mencapai keadaan endemik sebagai menentang keadaan pandemi di mana kita dapat hidup lebih teratur dengan virus yang lebih mirip dengan flu daripada yang terlihat seperti Covid-19,” katanya seperti dikutip dari Fox News, Jumat (17/12/2021).

Gejala Omicron yang Perlu Dipahami

Para peneliti CDC sudah mengajukan profil gejala awal untuk Omicron. Varian yang pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021 di Afrika Selatan ini memiliki beberapa gejala khas. Mulai dari batuk sebanyak 89% sementara gejala lainnya yaitu mudah lelah (65%), pilek atau hidung tersumbat (59%), demam (38%), mual (22%), sesak napas (16%), diare (11%), anosmia atau hilangnya kemampuan penciuman (8%).

Sementara Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru dalam salah satu wawancaranya di salah satu stasiun TV nasional, menambahkan jika varian Omicron replikasinya lebih banyak pada saluran pernapasan.

“Laporan dari berbagai negara, seperti Israel, Jepang dan juga Korea, menyebutkan jika kasus Omicron banyak ditemukan pada orang yang sudah divaksin lengkap. Bahkan, ada beberapa kasus yang sudah booster juga. Hal ini menunjukkan jika Omicron gejalanya ringan dibandingkan Delta, akan tetapi bisa menghindar dari sistem imun,” ungkap dr Erlina.

Biarpun mengalami gejala tersebut, tapi bukan berarti otomatis terinfeksi kasus Omicron. Perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya dengan jelas.

Advertisement

Continue Reading

Kesehatan

Ditemukan 60 Kasus Positif Hasil Pelacakan Omicron, Jangan Kendor Terapkan Prokes

Published

on

By

Setelah menjadi perbincangan beberapa waktu terakhir sejak kali pertama kasusnya ditemukan di Afrika Selatan, Omicron akhirnya dikonfirmasi masuk Indonesia. Temuan Virus Corona varian B.1.1529 atau Omicron di Indonesia ini diumumkan pertama kali oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 16 Desember 2021.

Dalam konferensi persnya secara virtual Budi menjelaskan jika ada tiga orang pekerja kebersihan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Jakarta yang dinyatakan positif setelah dites pada 8 Desember 2021 lalu. Hasil tes tersebut kemudian dikirimkan ke Balitbangkes untuk dilakukan genome sequencing.

Pada 15 Desember 2021, hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan jika tiga orang petugas kebersihan di Wisma Atlet yang positif sebelumnya, dipastikan terpapar varian Omicron. Mengejutkannya, ketiga orang tersebut positif tanpa gejala, dan telah menjalani karantina di Wisma Atlet. Kini hasil tes PCR kedua dari ketiga orang tersebut sudah negatif.

Dari kasus pertama ini, pemerintah pun melakukan tracing kepada 250 kontak erat. Hasilnya ditemukan 60 kasus positif Covid-19 yang kemudian akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terinfeksi Omicron atau bukan.

Transisi Pandemi Menuju Endemik

Ahli kesehatan dunia menyatakan Omicron bisa menjadi langkah signifikan dalam transisi pandemi menjadi endemik. Hal ini didasarkan pada studi awal tentang penyebarannya yang masif di beberapa negara.

Advertisement

Direktur pelaksana Bain Capital Life Sciences, Dr. Adam Koppel mengungkapkan varian Omicron yang sekarang ini mewabah di beberapa negara sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menjadi strain global yang dominan.

“Itu akan memungkinkan kita untuk lebih cepat mencapai keadaan endemik sebagai menentang keadaan pandemi di mana kita dapat hidup lebih teratur dengan virus yang lebih mirip dengan flu daripada yang terlihat seperti Covid-19,” katanya seperti dikutip dari Fox News, Jumat (17/12/2021).

Gejala Omicron yang Perlu Dipahami

Para peneliti CDC sudah mengajukan profil gejala awal untuk Omicron. Varian yang pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021 di Afrika Selatan ini memiliki beberapa gejala khas. Mulai dari batuk sebanyak 89% sementara gejala lainnya yaitu mudah lelah (65%), pilek atau hidung tersumbat (59%), demam (38%), mual (22%), sesak napas (16%), diare (11%), anosmia atau hilangnya kemampuan penciuman (8%).

Sementara Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru dalam salah satu wawancaranya di salah satu stasiun TV nasional, menambahkan jika varian Omicron replikasinya lebih banyak pada saluran pernapasan.

“Laporan dari berbagai negara, seperti Israel, Jepang dan juga Korea, menyebutkan jika kasus Omicron banyak ditemukan pada orang yang sudah divaksin lengkap. Bahkan, ada beberapa kasus yang sudah booster juga. Hal ini menunjukkan jika Omicron gejalanya ringan dibandingkan Delta, akan tetapi bisa menghindar dari sistem imun,” ungkap dr Erlina.

Biarpun mengalami gejala tersebut, tapi bukan berarti otomatis terinfeksi kasus Omicron. Perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya dengan jelas.

Advertisement

Continue Reading

Kesehatan

Ditemukan 60 Kasus Positif Hasil Tracing Omicron, Jangan Kendor Terapkan Prokes

Published

on

By

Setelah menjadi perbincangan beberapa waktu terakhir sejak kali pertama kasusnya ditemukan di Afrika Selatan, Omicron akhirnya dikonfirmasi masuk Indonesia. Temuan Virus Corona varian B.1.1529 atau Omicron di Indonesia ini diumumkan pertama kali oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 16 Desember 2021.

Dalam konferensi persnya secara virtual Budi menjelaskan jika ada tiga orang pekerja kebersihan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Jakarta yang dinyatakan positif setelah dites pada 8 Desember 2021 lalu. Hasil tes tersebut kemudian dikirimkan ke Balitbangkes untuk dilakukan genome sequencing.

Pada 15 Desember 2021, hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan jika tiga orang petugas kebersihan di Wisma Atlet yang positif sebelumnya, dipastikan terpapar varian Omicron. Mengejutkannya, ketiga orang tersebut positif tanpa gejala, dan telah menjalani karantina di Wisma Atlet. Kini hasil tes PCR kedua dari ketiga orang tersebut sudah negatif.

Dari kasus pertama ini, pemerintah pun melakukan tracing kepada 250 kontak erat. Hasilnya ditemukan 60 kasus positif Covid-19 yang kemudian akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terinfeksi Omicron atau bukan.

Transisi Pandemi Menuju Endemik

Ahli kesehatan dunia menyatakan Omicron bisa menjadi langkah signifikan dalam transisi pandemi menjadi endemik. Hal ini didasarkan pada studi awal tentang penyebarannya yang masif di beberapa negara.

Advertisement

Direktur pelaksana Bain Capital Life Sciences, Dr. Adam Koppel mengungkapkan varian Omicron yang sekarang ini mewabah di beberapa negara sangat mengkhawatirkan dan berpotensi menjadi strain global yang dominan.

“Itu akan memungkinkan kita untuk lebih cepat mencapai keadaan endemik sebagai menentang keadaan pandemi di mana kita dapat hidup lebih teratur dengan virus yang lebih mirip dengan flu daripada yang terlihat seperti Covid-19,” katanya seperti dikutip dari Fox News, Jumat (17/12/2021).

Gejala Omicron yang Perlu Dipahami

Para peneliti CDC sudah mengajukan profil gejala awal untuk Omicron. Varian yang pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021 di Afrika Selatan ini memiliki beberapa gejala khas. Mulai dari batuk sebanyak 89% sementara gejala lainnya yaitu mudah lelah (65%), pilek atau hidung tersumbat (59%), demam (38%), mual (22%), sesak napas (16%), diare (11%), anosmia atau hilangnya kemampuan penciuman (8%).

Sementara Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru dalam salah satu wawancaranya di salah satu stasiun TV nasional, menambahkan jika varian Omicron replikasinya lebih banyak pada saluran pernapasan.

“Laporan dari berbagai negara, seperti Israel, Jepang dan juga Korea, menyebutkan jika kasus Omicron banyak ditemukan pada orang yang sudah divaksin lengkap. Bahkan, ada beberapa kasus yang sudah booster juga. Hal ini menunjukkan jika Omicron gejalanya ringan dibandingkan Delta, akan tetapi bisa menghindar dari sistem imun,” ungkap dr Erlina.

Biarpun mengalami gejala tersebut, tapi bukan berarti otomatis terinfeksi kasus Omicron. Perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya dengan jelas.

Advertisement

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021